Seorang Pencerita

Aku adalah seorang pencerita yang baik, dan akan ku ceritakan padamu sebuah kisah.

Ada seorang putri yang menyedihkan, yang selalu menanti pangeran yang didambanya. Putri ini tinggal dalam sebuah puri kecil, namun tinggi, dan selalu melihat ke bawah. Ia selalu menengok pangeran yang lewat dalam perburuannya. Menurutmu ini seperti cerita Rapunzel? Sepertinya. Karena aku kurang kreatif menggambarkan kehidupan seorang putri. Aku bukanlah seorang putri.

Bukan hanya sekali, namun beberapa kali pangeran lewat, naik dengan tali, dan bercakap-cakap dengan putri itu. Tentang kerinduan, tentang mimpi, tentang rahasia diri, bahkan tentang masalah yang membelenggunya.

Selalu, putri ini hanya bisa termenung sambil melihat wajah-wajah pangeran yang mampir dan melihat rona wajah mereka.

Bukan yang ini, bukan yang itu, bukan pula yang kemarin. Bisik putri dalam hatinya.

Setiap kali, pangeran-pangeran tersebut turun melalui tali dan melambaikan tangan kepada putri. "Selamat tinggal," kata mereka. Jarang sekali ada pangeran yang berkata, "Sampai jumpa kembali." Karena putri tahu, mereka tak akan kembali. Putri lah yang menyuruh mereka melanjutkan perjalanan.

Satu kali, ada yang menarik sang putri. Bukan pangeran, tetapi seorang pemuda yang kebingungan dengan hidupnya.
"Hai," Kata putri sambil melongok kebawah.
"Hai." Jawab pemuda itu sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, sang pemuda naik ke puri dan mulai berbicara. Wajah sang pemuda dan ronanya menarik hati putri ini. Kali ini, putri tak hanya termenung, tapi ikut merona. Putri menyukainya. Putri menyukai pemuda ini.

Hari demi hari, sang pemuda tak lekas meninggalkan puri. Sang putri pun tak menyuruh pemuda itu pergi. Sang putri nampak menikmati berbicara dengan pemuda ini. Setiap kali sang pemuda tersenyum, putri nampak ikut bahagia.

Namun yang ia lupa, lelaki itu bukanlah seorang pangeran yang tahu maunya apa. Dia adalah pemuda yang kebingungan.

Bingung, malam-malam sang pemuda turun melalui tali dan berkemah di bawah puri.

"Apa yang terjadi?" Tanya sang putri.
"Aku hanya bingung." Jawab pemuda sambil menatap api unggun didepannya.

Setelahnya, sang putri hanya menatap diam sang pemuda yang sedang melamun di depan api unggun. Begitu terus hingga fajar nampak, dan embun membasahi pipi sang putri yang menatap sedih ke arah pemuda bingung. Pemuda itu berkemas dan berkata kepada putri, "Aku akan pergi."

Kali ini, Putri hanya terdiam. Tak lagi mengatakan "selamat tinggal" yang selalu ia sematkan sebelumnya. Putri ini kembali terdiam dan menangis. Begitu terus hingga pagi berikutnya, ada seorang penyihir dewasa lewat, dan memberikan ramuan ajaib kepada putri untuk menghentikan tangisannya. Ramuan ini tidak gratis, tentu saja. Putri harus mau hidup dengan penyihir itu selamanya.


Ada yang salah dengan cerita ini? benar.
Apa kau bertanya-tanya mengapa pemuda ini bingung? Mengapa pemuda ini pergi? Aku juga.
Namun, apakah kau suka pada ceritaku?

Iya?

Tentu saja. Karena aku adalah seorang pencerita yang baik! Namun, aku bukanlah seorang pendengar yang baik, karena pemuda itu tak pernah menceritakan kepadaku mengapa ia pergi, mengapa ia bingung dan setelahnya, membiarkan putri ini hidup dengan penyihir.

Tidak ada yang ku dengar? Sungguh, tidak. Setelah pemuda ini pergi, dinding tebal dan tinggi menutup puri. Putri hidup dalam keheningan abadi. Itulah kenapa aku bukanlah pendengar yang baik.

Apakah aku adalah putri, tanyamu?
Apakah aku memaafkan pemuda itu?

Apakah kau adalah pemuda bingung itu?
Mengapa kau peduli?

Komentar

Postingan Populer